Google Website Translator Gadget

Sep 5, 2012

The Situation in Gaza

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

One, Two.. Three..
 
Three said that They are Trap,
Like a birds in a cage of gold..

Two said that They are Trap..
Like a prisoner that waiting for judgement..

One said that They are Trap..
But, They are actually safe..

One again said,
They are safe like wind,
The wind that blow without Harm,
Harm to themselves neither to other people..
  
Safe from the inside.. 
Safe from the outside world..
Safe with Allah Rahmah and Blessed.. 
  

Aug 31, 2012

Ehem.. Berhasilkan Ramadhan Kita..

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Ehem..
Diam tak diam, Kini kita telah berada di hari yang ketiga belas dari bulan Syawal. Artinya, dua pekan kita telah meninggalkan Ramadhan. Bulan yang penuh dengan keutamaan. Bulan yang sangat istimewa. Bulan yang di dalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan dilipatgandakannya pahala. Bulan yang secara khusus diwajibkan puasa di siang harinya.

Dikala sibuk beraya, sibuk bertandang rakan taulan memenuhkan segala ruang yang ada, tidak adakah terdetik pertanyaan? Pertanyaan, sudah berhasilkah puasa Ramadhan kita? Tidak ada jaminan bahwa puasa kita berhasil dan diterima Allah. Karenanya para ulama salaf sangat sedih ditinggal Ramadhan dan mereka dengan sungguh-sungguh berdoa, bahkan selama enam bulan, agar amal Ramadhannya diterima.

Wahai Rabb kami... terimalah puasa kami, shalat kami, ruku' kami, sujud kami dan tilawah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui
Tidak ada jaminan bahwa puasa kita berhasil. Tetapi kita bisa melihat bahwa suatu pekerjaan dikatakan berhasil bila ia mampu mencapai tujuannya. Adapun tujuan puasa, insya Allah kita semua hafal ayatnya. Ayat yang kita dengarkan hampir setiap hari di bulan Ramadhan. Kita mendengarnya dari para khatib, dai, muballigh, baik secara langsung atau melalui media. 
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kalian untuk berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa (QS. Al Baqarah : 183)
Itulah tujuan puasa. "La'alakum tattaquun." Agar kalian bertaqwa. Agar kita bertaqwa. Maka, jika selepas Ramadhan kita menjadi bertaqwa atau lebih dekat dengan taqwa dari bulan-bulan sebelumnya, dari tahun sebelumnya, insya Allah puasa kita berhasil. Dan seharusnya itulah yang terjadi pada kita di bulan Syawal yang artinya tidak lain adalah peningkatan. Namun jika kita semakin jauh dari taqwa, khawatirlah bahwa puasa kita sia-sia, tidak berhasil, tidak membawa apa-apa kecuali lapar saja.

Rasulullah SAW bersabda :

Betapa banyak orang yang berpuasa tapi tidak mendapatkan apa-apa baginya kecuali rasa lapar. (HR. An-Nasai dan Ibnu Majah)
Tetapi, Bagaimana mahu mengukur ketaqwaan kita yang merupakan buah dari puasa Ramadhan? 

Taqwa secara umum berarti menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Definisi itu sering diulang-ulang oleh khatib Jum'at sehingga kita hafal di luar kepala. Sebuah pengertian yang mudah dihafal, tetapi amat luas dan berat dikerjakan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan karakter orang yang bertaqwa dalam banyak ayatNya. Karakter-karakter itu memudahkan kita untuk mengevaluasi diri kita apakah kita sudah bertaqwa, atau sudah lebih dekat dengan taqwa. Dengan demikian, karakter-karakter itu juga memudahkan kita untuk mengevaluasi apakah Ramadhan kita telah berhasil atau belum.


Diantara karakter orang yang bertaqwa itu, Allah memfirmankannya dalam QS. Ali Imran ayat 133-135. Di situ Allah Azza wa Jalla menunjukkan empat karakter orang yang bertaqwa.


Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan, dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (QS. Ali Imran : 133-135)
Inilah empat karakter orang yang bertaqwa. Pertama, يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ "berinfaq baik dalam kondisi lapang maupun sempit."

Orang yang bertaqwa itu suka berinfaq, suka bersedekah, baik dalam kondisi lapang maupun sempit. Dalam kondisi kaya atau dalam kondisi belum kaya. Baik tanggal muda maupun tangga tua. Karakter itulah yang dengan mudah kita dapatkan pada generasi sahabat Nabi. Generasi yang paling bertaqwa dari umat ini.

Menjelang perang Tabuk, para sahabat berbondong-bondong untuk berinfak. Yang kaya infak, banyak. Yang miskin juga berinfak, sesuai kemampuan mereka. Umar datang kepada Nabi untuk menginfakkan separuh hartanya. Abu Bakar bahkan menginfakkan seluruh hartanya. Melihat kedermawanan Abu Bakar, Umar mengomentari, "Sungguh, aku tidak pernah bisa melebihi kebaikan Abu Bakar."

Begitu banyak kisah-kisah kedermawanan para sahabat dan kegemaran mereka dalam berinfak. Baik mereka yang kaya atau yang miskin. Baik mereka yang sedang dalam kondisi lapang atau sempit. Suatu malam, ada tamu Nabi yang singgah di rumah Abu Thalhah. Saat itu sebenarnya Abu Thalhah dalam kondisi sempit, sangat sempit. Bahkan ia tidak memiliki makanan di malam itu kecuali untuk anaknya. Namun kegemarannya berinfak membuat ia dan istrinya Ummu Sulaim membujuk anak-anaknya agar tidur tanpa makan malam. Sedangkan makanan itu disuguhkan kepada sang tamu. Ketika makanan dihidangkan, lampu dimatikan dan Abu Thalhah pura-pura makan padahal ia tak lagi memiliki makanan. Sang tamu makan hingga selesai, sedangkan Abu Thalhah menemaninya tanpa diketahui tamunya bahwa ia tidak makan apa-apa.

Maka para sahabat Nabi, sebagaimana juga orang-orang yang gemar berinfak, hidupnya diberkahi Allah. Dimudahkan Allah. Tidak ada ceritanya orang yang miskin gara-gara sedekah. Meskipun Umar bin Khatab menyedekahkan separuh hartanya dan Abu Bakar menyedekahkan seluruh hartanya, tidak ada ceritanya kemudian Umar dan Abu Bakar bangkrut gara-gara itu. Sedekah dibalas Allah 10 hingga 700 kali lipat, dan sering kali itu juga dibalas di dunia ini. Maka sedekah membuat harta berlimpah dan berkah, jiwa tenang, bahaya dan penyakit serta berbagai madharat terhindarkan.

Betapa banyaknya orang yang mengatakan, saya sedekah kalau nanti sudah kaya. Saya berinfak nanti kalau sudah banyak harta. Orang yang bertaqwa tidak mengatakan itu. Orang yang bertaqwa gemar bersedekah baik di waktu lapang maupun di waktu sempit. Jangan menunggu kaya untuk bersedekah, tetapi bersedekahlah sekarang maka kita akan kaya.

Jika selepas Ramadhan, kita menjadi gemar berinfak maka itu adalah tanda bahwa puasa kita berhasil, insya Allah. Jika di bulan Syawal dan bulan-bulan berikutnya kita menjadi suka bersedekah, insya Allah itu adalah tanda bahwa kita lebih dekat dengan taqwa, tanda berhasilnya puasa kita.

Karakter kedua orang yang bertaqwa adalah, وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ "menahan marah"
Dalam tafsir Fi Zhilalil Qur'an dijelaskan bahwa marah adalah perasaan manusiawi yang diiringi dengan naiknya tekanan darah. Manusia tidak dapat menundukkan kemarahan ini kecuali dengan perasaan halus dan lembut yang bersumber dari pancaran taqwa, dan dengan kekuatan ruhiyah yang bersumber dari pandangannya kepada ufuk lebih luas daripada ufuk dirinya dan cakrawala kebutuhannya.

Menahan marah artinya tidak menuruti kemarahan ketika emosi itu muncul atau tersulut. Marah, apalagi tanpa alasan jelas, membuat pikiran tertutup kabut emosi, kebijaksanaan hilang, terburu-buru dan minim kontrol. Karenanya betapa banyak orang yang hancur gara-gara tidak mampu menahan marah. Suami yang menuruti kemarahan kepada istri bahkan karena masalah sepele membuat rumah tangga berantakan hingga timbul perceraian, karena ia marah lalu terucap talak tanpa pikir panjang. Setelah berlalu masa iddah barulah ia menyesal telah menceraikan istrinya, hidupnya kacau dan jadilah ia orang yang paling lemah.

Seorang atasan yang tak mampu menahan marah, ia suka tersulut emosi dan membuat keputusan yang menzalimi anak buahnya. Seorang pemimpin yang suka marah, ia juga bisa menzalimi orang yang dipimpinnya dan membawa kerugian dan kehancuran bagi institusi, perusahaan, daerah atau bahkan negara yang dipimpinnya. Orang yang tidak mampu menahan marah sesungguhnya adalah orang yang lemah. Dan sebaliknya, orang yang mampu menahan marah sesungguhnya adalah orang yang kuat, bahkan paling kuat.

Rasulullah SAW bersabda,
Orang yang kuat itu bukanlah orang yang jago gulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang dapat menahan dirinya ketika sedang marah (HR. Bukhari dan Muslim)
Puasa Ramadhan satu bulan lamanya mendidik kita untuk mengendalikan emosi. Rasulullah memerintahkan jika ada orang yang menyulut emosi atau mengajak kita berkelahi agar kita menjawabnya dengan tenang "inni shaaimun: sesungguhnya aku sedang berpuasa."

Maka jika selepas Ramadhan kita kini lebih mudah menahan marah, lebih mudah mengendalikan emosi, insya Allah itu adalah tanda keberhasilan puasa kita sekaligus tanda dekatnya kita dengan predikat taqwa. Lihatlah Rasulullah yang tidak pernah marah karena masalah pribadi. Diludahi orang sewaktu di Makkah, beliau tidak marah. Dilempari batu ketika beliau berdakwah di Thaif, beliau tidak marah, malah mendoakan mereka. Apalagi kehidupan beliau bersama istrinya, jauh dari marah. Pernah suatu malam beliau pulang kemalaman karena dakwah, Aisyah sudah tertidur dan pintu rumah sudah dikunci. Beliau salam tiga kali istrinya tidak dengar, maka beliau pun tidur di luar. Beliau tidak marah, bahkan ketika Aisyah bangun dan membukakan pintu di sepertiga malam terakhir, Rasulullah lebih dulu meminta maaf.

Karakter ketiga orang yang bertaqwa adalah, وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ "memaafkan manusia"
Menurut Sayyid Quthb dalam tafsir Fi Zhilalil Qur'an, menahan marah adalah fase pertama, dan itu tidak cukup. Ia harus diiringi dengan memberikan maaf. Karena ada kalanya orang tidak menampakkan kemarahan tetapi ia memendam benci dan dendam. Kemarahan yang disimpan itu menyakitkan hati dan menghanguskan jiwa, tetapi dengan memaafkan maka lepaslah ia dari sakit hati dan seketika jiwanya menjadi lapang dan damai, meninggi ke langit suci.

Menjadi momentum yang tepat bahwa selepas Ramadhan kita saling memaafkan. Halal bi halal, meskipun istilahnya diambil dari bahasa Arab, tidak dikenal di dunia Arab. Tetapi bukan berarti itu terlarang. Justru dengan budaya halal bi halal ada sarana bagi kita untuk saling memaafkan. Meskipun demikian, memaafkan tidak hanya di bulan Syawal saja.

Orang yang bertaqwa itu suka memaafkan orang lain. Maka untuk mengetahui apakah puasa Ramadhan kita berhasil atau tidak salah satunya adalah melihat ini: apakah kita sudah memaafkan orang lain? Apakah kita suka memaafkan orang lain? Apalagi jika orang itu adalah istri kita, orang tua kita, anak-anak kita, keluaraga dan saudara kita, atau teman-teman kita.

Karakter ketiga orang yang bertaqwa disebutkan Allah di ayat 135.
dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (QS. Ali Imran : 133-135)
Orang yang bertaqwa itu segera bertaubat kepada Allah jika ia melakukan kesalahan atau kemaksiatan. Ia segera menyadari kesalahannya, ingat Allah, memohon ampun dan tidak meneruskan kesalahannya.

"Faahisyah" yang diterjemahkan dengan perbuatan keji dalam ayat tersebut adalah perbuatan dosa yang besar dan sangat buruk. Namun begitu besarnya rahmat Allah, sehingga meskipun hambaNya berbuat dosa besar dan sangat buruk, ia bisa menjadi muttaqin asalkan bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan dosa besar itu tidak menutupnya dari peluang taqwa asalkan ia bertaubat.

Maka mengukur ketaqwaan kita, mengukur keberhasilan puasa kita salah satu indikatornya adalah apakah kita suka bertaubat atau tidak. Jika kita melakukan kesalahan segera bertaubat dengan menyadari kesalahan itu, mengingat Allah dan memohon ampunan-Nya serta tidak meneruskan kesalahan itu, insya Allah puasa kita berhasil dan kita lebih dekat dengan taqwa. Tetapi jika kita sadar dengan dosa dan kemaksiatan yang kita lakukan tetapi menunda-nunda taubat, meneruskan menikmati maksiat, maka itu berarti kita jauh dari taqwa dan khawatirlah bahwa puasa Ramadhan kita tidak mendapatkan hasil apa-apa kecuali lapar saj
a. Waallahu'Alam
 

Aug 30, 2012

Terima Kasih Allah..

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Terima Kasih Allah,
Alhamdulillah..

Ya Allah,
Disaat aku senyap tanpa seribu kata,
Disaat aku cuba menyembunyikan kata rahasia,
Segala rahasia yang lama ku pendam,
Rahasia yang tidak kenal lelah dan letih,
Letih berkerah segala tenaga,
Berusaha sedaya upaya..

Engkau hadir..
Dan tetap hadir..
Tanpa tida pernah meniggalkanku..
Ya Allah Ya Tuhanku, aku bersyukur..
Terima Kasih Allah.. 

Sinar Restu..
Sinar Keredhaan kedua Ibu Bapa ku kini jelas terasa,
Disaat mereka meluahkan rasa, dan disaat meraka berkata,

Pergilah, Pergi kejar Impinmu Mil..
Terdetik kata, kata syukur bersama kunci,
Kata kunci.. Kata penuh Keredhaan,
Keredhaan kedua Ibu Bapa ku,
Juga Redha-Mu Ya Rabb..
Insya'Allah..


Insya'Allah, Terima Kasih Ya Allah..

Aug 27, 2012

Bismillah..

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Tak pernah lepas dari cobaan
Dalam perjalanan percintaan
Tapi ku relakan cintaku untuk mu
Yakin pada tulusnya kasihmu
Hanya kerana cinta ku melangkah jauh
Sanggup menyepi mencari ilham ku
Tak ada yang lebih dari itu
Hanya kerana cinta ku bersujud pasrah
Mengharapkan belas maaf dari mu
Tak ada yang lebih
Tak ada yang lebih dari itu


Bismillah, Ya hanya dengan nama-Mu Ya Allah, Aku berusaha, aku cuba dan aku bertawakal hanya kepada-Mu. Saling tidak ku lupa berdoa bersujud hanya mengharapkan belas dan Rahmat dari-Mu..

Disaat persoaalan menghantui diri, dan disaat berpuluh tanda soal terbit dari lubuk hati yang penuh dengan "eager", terbit cahaya kecil yang cuba melepaskan diri dari globe kaca yang terus memancar rasa kesyukuran.. 

Cahaya kecil yang penuh dengan seribu tanda tanya, Bersediakah Engkau, sudah lapangkah niat di dada, dan sudah terpatrikah nawaitumu kerana Allah.. 

Ya Allah, Disaat niatku tersasar bantulah aku untuk terus berada dalam lingkungan hidayah-Mu. Di saat diri ini leka dan tersia degan cobaan dunia, bantulah aku untuk terus kuat memegang dunia hanya pada telapak tangan ku manakala Hatiku terus kukuh mendakap cintaku Kepada-Mu.. 

Ya Allah, 
University Of Otago, New Zealand.. 
Jadikanlah keputusan ini yang terbaik,
Keputusan yang mendapat Redha-Mu, 
Bukan pula mengundang Istidraj-Mu. 

Ya Allah 
aku bertawakal,
Aku berserah hanya kepada-Mu,
Bantu diriku Ini Oh Allah.. 

Bismillah..
Apabila dahi bertemu sejadah ,
Itulah saat cinta terindah, 
Apabila doa menjadi harapan,
Itulah istikharah termahal..

Aug 14, 2012

Lets Get To Know Al-Aqsa

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 
Assalamualaikum, Kadang kadang kita tertanya, kenapa Palestine, Kenapa Gaza dan kenapa Al-Aqsa.. Namun tiada penyelesaian yang lengkap bagi persoalan dan pertanyaan ini, Mungkin kerana tiada jawapanya atau tiada Ilmu berkenaanya.. Mustahillaaah.. Ilmu Allah itu luas, Tidak habis Tujuh lautan jika dipenakan bagi menulis Ilmu Allah itu.. Atau Mungkin juga ia adalah rahasia Allah.. It could be, But kenapa akidah umat islam seolah-olah berantai di Al-Aqsa sehingga ia pernah menjadi Kiblat pertama kita, dan menjadi tempat Mikraj Muhammad SAW sebelum terimanya Penghormatan Solat bagi Umat Muhammad. Jadi tidak mungkin ia begitu rahasia buat umat Muhammad SAW seluruhnya..
Justeru, Entry ini diketengahkan bagi mengenali lebih Al-Aqsa Insya'Allah.. 

 

Al-Aqsa sebenarnya bukanlah hanya Dome of The Rock (bangunan berkubah emas). Al-Aqsa juga bukanlah hanya bangunan masjid yang berkubah hijau. Masjid yang berkubah hijau itu dipanggil al-Jami’ al-Aqsa (Masjid Jamek al-Aqsa).

Al-Jami’ (Masjid Jamek) membawa erti masjid itu digunakan untuk sembahyang Jumaat. Orang Arab selalu menggunakan nama masjid untuk merujuk kepada rumah ibadat orang Islam walaupun ia merujuk kepada tempat kecil seperti surau, ia tetap dipanggil masjid. Ada juga istilah lain yang mereka guna seperti musalla dan sebagainya. Jadi, jangan keliru dengan perkataan masjid, yakni ada kalanya ia merujuk kepada surau, musalla atau tempat solat yang tidak dibuat solat Jumaat.


Bangunan-bangunan ‘al-Jami’ ‘ dan Dome itu, mengikut sejarah Islam, masih belum wujud ketika Nabi Muhammad SAW pergi ke situ dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Ketika Nabi SAW pergi pada waktu itu, tempatnya adalah lapang. Ia dikelilingi tembok sahaja. Kawasannya luas, lebih kurang 144 ekar.

Bangunan-bangunan berkubah emas dan berkubah hijau ini dibina selepas Rasulullah wafat. Bangunan tempat solah Berkubah Hijau telah dibina oleh Khalifah Umar Ibn Al-Khattab RA. Bangunan Berkubah Emas pula telah dibina oleh Khalifah Abdul Malik Ibn Marwan. Mengikut turutan masa: Rasulullah – Umar – Abdul Malik.

Keduanya berada dalam kawasan Masjid al-Aqsa. Berbangunan atau tidak berbangunan, keseluruhan kawasan masjid berpagar yang dibina oleh Nabi Sulaiman ini (seperti ditandakan dengan garisan hijau dalam gambar di atas) adalah keseluruhan Masjid al-Aqsa. Inilah maksud al-Masjid al-Aqsa yang disebut di dalam Surah al-Isra ayat 1.


 Nama-nama tempat di dalam lingkaran Masjid Al-Aqsa

Jadi, di mana sahaja kita solat di dalam kawasan itu, samada dalam al-Jami’ atau dalam Bangunan Berkubah Emas (Dome of The Rock), pahalanya sama, iaitu pahala mereka yang solat di al-Masjid al-Aqsa. Itulah yang disepakati oleh ulama’ tafsir, ahli sejarah dan cendikiawan Islam. Maka mempertahankan Al-Aqsa mestilah bermakna mempertahankan keseluruhan kawasan berpagar itu.
Abdullah Ibn Umar bertanya pada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, terangkan kpd kami hukum menziarahi BaitulMaqdis. “Jawab Rasulullah SAW, “Ziarah dan solatlah di sana. Sekiranya tidak mungkin (ziarah dan solat) maka kirimkanlah minyak untuk lampu-lampu (bagi menerangi masjid).” – Sahih Bukhari
Jika membiayai pengurusan masjid manjadi tanggungjawab seluruh umat Islam apatah lagi tanggungjawab untuk membebaskannya dari penaklukan dan cengkaman musuh. Lantaran itu Sayidina Umar al-Kahttab RA telah mengistiharkan Baitul Maqdis yang melingkari masjid al-Aqsa sebagai tanah wakaf umat Islam yang wajib dipertahankan sepanjang zaman sebaik sahaja menerima kunci kota tersebut setelah ianya dibuka dan dibebaskan dari cengkaman kerajaan Rom Timur (Byzantium).


Waallahu'Alam..
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Music Player